Home | Jurnal Medan | Pengggunaan Uang Elektronik di Indonesia Belum Populer

Pengggunaan Uang Elektronik di Indonesia Belum Populer

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Penggunaan uang elektronik (non tunai) di Indonesia bergerak pasif. Bank Indonesia mencatat bahwa hamoir 99 persen penduduk di tanah air masih melakukan transaksi dengan uang tunai (cash), sebagai metode pembayaran, baik kebutuhan keuangan mapun non keuangan.

 

Deputi Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Susiati Dewi mengakui, dibanding dengan negara tetangga, yakni Malaysia dan Thailand, instrument pembayaran di Indonesia masih jauh ketinggalan. Hal itu terjadi karena kebiasaan masyarakatnya yang sulit meninggalkan gaya pembayaran secara kovensional tersebut, oleh faktor kebiasaan.

 

Susiati menyebutkan, sebagai urat nadinya perekonomian, sistem pembayaran masuk dalam pilar ketganya di peraturan Bank Indonesia, penting dilakukan secara aktif dan kredible, karena ada proses pemindahan satu sumber dana kepada sumber dana lainnya, atau dari satu pelaku ekonomi ke pelaku ekonomi lainnya.

 

Peluang pengembangan pengggunaan transaksi non tunai menurut Susiati sangat besar, meski membutuhkan waktu. Adapun hambatan yang muncul, kondisi masyarakat belum siap menggunakan gransaksi non tunai, karena lebih percaya dengan uang tunai dalam bertransaksi, bahkan ada juga yang tidak paham dengan keberadaan instrument non tunai, dan interkoneksi yang masih terbatas, juga kondisi infrastruktur yang belum merata sebarannya dan belum terstandarisasi. Sehinga untuk merubah kebiasaan masyarakat agar bertransaksi secara non tunai, sulit diterapkan secara cepat, sehingga harus dilakukan secara perlahan (sedikit demi sedikit).

 

Disamping itu, jumlah masyarakat yang belum tersentuh layanan bank umum (unbanked) masih lebih besar dibanding yang bankable. Tercatat berdasarkan survey of users an non users of financial services, terdapat lima transaksi keuangan yang umum dilakukan oleh masyarakat unbanked secara tunai, dengan persantasi 88 persen membeli barang, 83 persen melakukan pembayaran tagihan, 60 persen membeli pulsa, 58 persen melakukan P2P transfer dan 55 persen menerima upah.

 

Susiati menyebutkan, transaksi keuangan dilakukan secara non tunai,memiliki keleibihan yang lebih unggul, yakni transaksi non tunai lebih praktis, efisien, kemudian akses lebih luas, velocity of money, kemudian dapat membuat perencanaan ekonomi lebih akurat. RW

 

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in