Home | Jurnal Medan | Jalur Dirtribusi yang Buruk Faktor Pendorong Inflasi

Jalur Dirtribusi yang Buruk Faktor Pendorong Inflasi

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Jalur distribusi yang buruk, karena kondisi infrastruktur yang jelek, ditambah ketersediaan pasokan yang menipis masih menjadi salah satu pemicu terbentuknya inflasi di Provinsi Sumatera Utara. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) pun mengaku sulit untuk mengontrol hal tersebut.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Subintoro mengatakan, inflasi yang terjadi pada Maret 2016 ada diluar pola historisnya. Sebab gangguan pasokan komoditas bumbu-bumbuan menjadi penyebab inflasi. Dimana sumbangan inflasi terbesar bersumber dari kenaikan harga cabai merah setelah pada bulan sebelumnya juga menjadi komoditas penyumbang inflasi, disamping bawang merah. Dalam tiga bulan awal 2016, kedua komoditas tersebut menjadi penyumbang inflasi di kota-kota yang disurvei oleh BPS. Secara keseluruhan inflasi kelompok volatile foods kembali melonjak di atas rata-rata historisnya sehingga mencapai 13,73 persen secara year on year (yoy), naik dari 10,30 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
 
Secara spasial, infasi Maret 2016 terutama didorong oleh inflasi di Kota Medan yang berperan sekitar 80 persen terhadap pembentukan inflasi di Sumatera Utara. Kota Medan yang tercatat sebagai kota IHK dengan inflasi tertinggi se-Indonesia 0,88 persen secara month to month (mtm).
 
Untuk mengontrol pergerakan inflasi, maka perlu adanya perbaikan dalam jalur distribusi pangan. Sebab bila jalur distribusi lebih pendek karena kondisi infrastruktur yang bagus, secara otomatis akan mengurangi biaya keluar selama perjalanan. Agar biaya tersebut murah, saat ini TPID telah mendirikan toko tani, yang menyediakan kebutuhan pangan masyarakat dengan harga yang terjangkau. Disamping itu koordinasi yang baik antar Satuan Kerja Perangkat daerah (SKPD) juga menjadi hal mutlak dalam mengontrol ketersediaan dan harga di pasaran.
 
Ke depan, dengan tekanan inflasi Sumatera Utara di April 2016 yang diperkirakan mereda, berbagai upaya akan dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara untuk membawa inflasi pada kisaran sasaran inflasi 4%±1%. Meningkatnya tekanan inflasi seiring dengan telah berakhirnya masa panen padi akan diimbangi oleh penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 April 2016 lalu. Berkaitan dengan hal tersebut, TPID Provinsi Sumatera Utara akan meningkatkan koordinasi pengelolaan pasokan dan kelancaran distribusi antara lain dengan mengimplementasikan 60 toko tani Indonesia di Kota Medan, Deli Serdang dan Langkat. 
RW

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in