Home | Jurnal Medan | Peternak Ayam Mengaku Rugi

Peternak Ayam Mengaku Rugi

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Asosiasi Peternak Ayam Rakyat Indonesia (ASPARI) Sumut menuntut kembalikan harta peternak akibat praktek monopoli, oligopoli atas harga jual di bawah modal, serta tidak ada jaminan kualitas bibit, pakan, dan obat-obatan (vaksin) yang ditentukan oleh pabrik pakan yang merupakan Perusahaan Modal Asing (PMA) maupun Perusahaan Modal Dalam Negeri (PMDN).

Ketua Umum ASPARI Sumut T Zulkarnain menyebutkan, kualitas bibit ayam (Doc) yang dikeluarkan perusahaan PMD/PMDN tidak sesuai dengan standar yang dijual di pasaran, sehingga pada tahap pemeliharaan menimbulkan kerugian.

Rata-rata standar gread A dengan berat 42 gram/ekor, namun pada kenyataan bibit yang dimasukkan ke dalam kotak dengan jumlah 100 ekor, ada yang beratnya 36 gram/ekor. Bibit dicampur, sehingga berdampak pada pertumbuhan berat ayam.

Kemudian kualitas pakan yang dikeluarkan para pabrik juga tidak sesuai dengan standar komposisi nilai gizi yang tertera pada karung pakan, sehingga berdampak pada saat pemeliharaan dan pertumbuhan berat ayam akibat komposisi nilai gizi dan protein tidak sesuai kualitas pakan ternak.

Selain itu, obat (vaksin) yang dikeluarkan pabrik belum ada pengawasan dan penelitian yang secara spesifikasi sehingga kualitas obat yang dikeluarkan tidak dapat berfungsi sesuai standar yang ditulis pada label keterangan.

ASPARI juga menilai, pabrik pakan ternak ayam telah melakukan monopoli dan oligopoli. Pabrik pakan melakukan praktek dari hulu ke hilir dimana mereka sebagai produsen, dan membentuk Pir/Pola Kemitraan, melakukan penjualan hingga ke pasar becek, sehingga telah mengganggu tata niaga yang telah terbentuk selama ini.

Kemudian para pabrik pakan sepakat bersama-sama dengan Gabungan Pengusaha Makan Ternak (GPMT) untuk menentukan harga pakan dan menjamin keuntungan pabrik pakan serta sepakat menentukan harga jual daging ayam di bawah modal. Seperti modal Rp16.000, jual Rp11.000 atau modal Rp25.000 jual Rp20.000.

Dia menyebutkan, aset peternak yang awalnya tanah dan rumah, kini demi menutupi utang kepada pihak pabrik, sekarang telah tergadaikan baik di bank maupun di pabrik akibat sistem yang telah terbentuk oleh pabrik pakan dan menjadikan peternak pasif dan bodoh menerima apa adanya.

Untuk itu, ASPARI menuntut dikembalikannya harta peternak akibat sistem monopoli dan oligopoli. Peternak juga meminta pertanggungjawaban PMA/PMDN atas kerugian yang dialami karena kualitas bibit, pakan dan obat-obatan yang tidak terjamin dan tidak sesuai standar.

Sementara itu, harga ayam potong di sejumlah pasar tradisional di Medan masih cukup mahal. Harga ayam potong yang awalnya berkisar antara Rp19.000 hingga Rp23.000 per kilogram, kini sudah mencapai Rp27.000 per kilogram. RW

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in