Home | Jurnal Medan | Warga Tionghoa Suku Hokian Lakukan Sembahyang Tebu

Warga Tionghoa Suku Hokian Lakukan Sembahyang Tebu

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Menjelang tanggal 9 bulan 1 Imlek penanggalan lunar, warga etnis Tionghoa khususnya suku Hokkian melakukan ritual sembahyang Cia Gwe Cwe Kaw atau lebih dikenal dengan sembahyang tebu. Ritual tersebut merupakan hari sembahyang besar Jing Tian Kong (Pai Thi Kong).

Ritual sembahyang tebu yang hanya dilakukan setahun sekali ini juga dimanfaatkan sejumlah pedagang tebu dan pedagang bunga. Meski musiman, omset yang dihasilkan cukup lumayan.

Seperti diakui seorang pedagang tebu di Pasar Ramai, Rifa, ia mendapatkan tebu dari Kabupaten Deli Serdang dan tebu yang dijual itu berjenis tebu kuning dari akar hingga daunnya. Memang ini merupakan tebu untuk sembahyang bagi etnis Tionghoa. Dimana ia menjual untuk dua batang tebu dihargai Rp30 ribu.

Untuk diketahui, sembahyang tebu dilakukan oleh seluruh keturunan Tionghoa di dunia. Namun, tidak semua suku mempergunakan tebu untuk sembahyang hanya suku Hokkian saja. Menurut sejarah, ribuan tahun lalu semua suku Tionghoa sudah merayakan Imlek dihari pertama akan tetapi pada zaman tersebut ada peperangan suku Hokkian. Dan mereka berlindung dan bersembunyi di kebu tebu dan pada hari kesembilan Imlek barulah mereka keluar dan bebas. Sehingga tebu dianggap sebagai penyelamat.

Sesuai kepercaan maka hari kedelapan menjelang tanggal 9 penanggalan lunar, hari tersebut dianggap sebagai hari kesaktian dan ulang tahun Pai Thi Kong. Dan turun temurun hingga sekarang, sembahyang tebu dilaksanakan sekitar pukul 23.00-24.00 WIB tadi malam. RW

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in