Home | Jurnal Medan | Industri Karet "Mati Suri"

Industri Karet "Mati Suri"

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Industri di sektor perkebunan karet mulai mengalami mati suri, karena kian kesulitan mendapatkan bahan baku akibat banyaknya tanaman karet yang telah beralih fungsihkan ke jenis tanaman lainnya seperti sawit.

Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah mengatakan, saat ini banyak petani yang sudah malas untuk menderes hasil karetnya. Bahkan banyak yang sudah memotong tanaman karetnya, lalu mengalih fungsihkan lahannya ke jenis tanaman lainnya seperti sawit. Akibatnya, ketersediaan bahan baku pun terganggu karena ketersediaann yang berkurang. Banyak pelaku industri pun terpaksa mengurangi jam operasional, lalu imbasnya merumahkan sebagian karyawannya.

Ia mengungkapkan, saat ini di Sumut yang tergabung dalam anggota Gapkindo ada sekitar 40 dan pabrik 30, namun rata-rata hanya mengoperasionkan jam kerja menjadi satu shift saja, dari normalnya tiga shift. Untuk memenuhi kebutuhan karet, pelaku industri pun kini tidak bisa hanya bergantung dengan ketersediaan di Sumatera Utara saja, namun juga didatangkan dari Aceh, Lampung bahkan Kalimantan.

Edi pun mengkhawatirkan, jika kondisi ketersediaan bahan baku berkurang, harga jual tak kunjung normal dan permintaan dari pasar ekspor masih minim, maka perusahaan industri karet di Sumut yang awalnya hanya mati suri, maka terancam akan kolaps (tutup). RW

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in