Home | Jurnal Medan | Angka Pravelensi Gibur dan Stunting di Indonesia Masih Tinggi

Angka Pravelensi Gibur dan Stunting di Indonesia Masih Tinggi

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Pravelensi anak usia balita yang beresiko menderita gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan laporan riset kesehatan dasar (Riskesda) angkanya berkisar 19,6 persen dari total kelahiran.

Pakar gizi masyarakat, Prof Dr Ali Khomsan mengatakan, tidak hanya resiko gizi buruk, anak-anak yang mengalami malnutrisi juga beresiko menyebabkan tingkat perkembangan tubuhnya tidak sempurna. Sebab menurut catatan Riskesda, balita yang beresiko bertubuh pendek (stunting) berkisar 37,2 persen.

Namun disisi lain, juga resiko balita menderita obesitas (kelebihan berat badan) cukup tinggi. Dimana sekitar 11,9 persen. Kondisi tersebut pun menurut Khomsan sebagai beban ganda malnutrisi. Dimana terdapat anak-anak yang masih mengalami malnutrisi, namun disisi lain terdapat juga anak-anak yang obesitas.

Sedangkan khusus di Medan saja, balita dengan gizi buruk mencapai 4,2 persen, bertubuh pendek 17,4 persen dan obesitas 12,4 persen.

"Kondisi tersebut dapat menghambat tumbuh kembang si kecil. Sehingga tidak optimal dan juga membuat mereka menjadi rentan terhadap penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, penyakit jantung dan lainnya," katanya di Medan.

Tingginya angka malnutrisi pada balita, Nestle Dancow pun menciptakan gerakan senam tanggap, guna menstimulus otot motorik kasar di kecil dalam proses tumbuh kembangnya. Sebab senam ini tidak saja membuat tubuh menjadi lentur, tetapi juga melatih keterampilan motorik, koordinasi penglihatan serta mengasah kemampuan sosialisasi pada anak.

Saat ini sudah sekitar 765 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia yang digandeng untuk dapat berbagi kepada para orang tua dan murid gerakan senam tanggap.

Disamping itu, kepada orang tua juga diharapkan untuk dapat memberikan nutrisi dan simulasi yang cukup kepada anak. Dimana nutrisi membantu pertumbuhan dari dalam, sedangkan stimulasi akan mendorong perkembangan kognitif dari luar. RW

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in