Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/radiosma/medan/lib/vivvo/framework/full_page_cache.functions.php on line 133

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/radiosma/medan/lib/vivvo/vivvo_lite_site.php on line 115

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/radiosma/medan/lib/vivvo/vivvo_lite_site.php on line 328
Radio Smart FM - Smartorial: Merawat Kebebasan Berekspresi
Home | Jurnal Medan | Smartorial: Merawat Kebebasan Berekspresi

Smartorial: Merawat Kebebasan Berekspresi

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Sesungguhnya, tak satupun hukum di negeri ini yang mampu menjangkau pemikiran, paham, dan keyakinan seseorang. Hukum tidak lagi bisa dipermainkan baik oleh individu, golongan, maupun lembaga, untuk menjerumuskan, bahkan menjerat pihak lain atas pikiran dan paham yang diyakininya. Itulah jaminan konstitusi kita atas kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berkreasi. Tetapi jaminan kebebasan itu bukanlah tanpa batas.

Setiap individu sebebas-bebasnya berkehendak, berekspresi, dan berpendapat, selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Lantas bagaimana hukuman untuk individu yang menghujat, menista, dan merendahkan martabat individu, kelompok, atau suatu kaum? Sudah tepatkah misalnya, publik Yogyakarta menuntut keadilan atas ekspresi berlebihan Florence Sihombing di akun pribadinya yang dianggap menistakan itu?

Atas nama adab kseopanan dan kesantunan, kekesalan mahasiswa pasca sarjana yang menghebohkan itu, amatlah tidak pantas. Bahasa yang sedemikian kasar, tentu sangatlah tidak layak keluar dari seorang terpelajar dan terdidik. Tetapi pantaskah jika kita mengirimnya ke penjara atas ketidaksopanannya itu? Semestinya kita melihatnya lebih bijaksana, dan menganggap itu sebagai kekhilafan seorang anak yang tak paham adab. Untuk kekhilafan semacam itu, rasanya penjara bukan tempat yang tepat. Kita hanya perlu mengajarinya kesopanan dan kesantunan berekspresi. Memang, masyarakat Yogyakarta boleh marah atas hujatan itu. Tetapi rasanya permintaan maaf saja sudah cukup untuk menyelesaikan perkara itu.

Penggunaan pasal pencemaran nama baik, penistaan, apalagi UU Informasi dan Transaksi Elektronik untuk menjeratnya, sangatlah kontraproduktif dengan perjuangan publik untuk menghapus pasal-pasal itu dari hukum kita. Korban akibat pasal karet itu telah berjatuhan. Dan kita tidak ingin ada korban-korban baru akibat pasal peninggalan Kolonial itu.

Rasanya akan sangat ironis, jika kita yang berjuang untuk menghapusnya, justru menggunakan pasal karet itu untuk menjerat sesama kita. Tentu ini menjadi bagian dari pembelajaran kita dalam berpendapat dan berekspresi. Sangatlah penting bagi generasi bangsa ini untuk mampu mengendalikan diri, mengatur, sekaligus menjaga dan menata baik lisan, tulisan, maupun sikapnya agar tak melanggar adab publik. Ketaatan merawat adab ini sangat penting bagi kita untuk melestarikan kebebasan yang telah dan sedang kita nikmati ini.

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

Smartorial

Rate this article

0

Log in