Home | Jurnal Medan | Belum Swasembada, Harga Bawang Sumbang Inflasi Sumut

Belum Swasembada, Harga Bawang Sumbang Inflasi Sumut

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengaku belum dapat melepaskan ketergantungan pada bawang impor, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya untuk komoditi bawang merah.

Kepala Sub Bagian Program Dinas Pertanian Sumatera Utara, Lusiantini mengatakan, ketergantungan itu berdampak pada kondisi tingkat pergerakan harga di Sumatera Utara, yang berpotensi inflasi akibat kenaikan harga bawang, khususnya menjelang ramadhan dan lebaran mendatang. Lusiantini mengaku, pihaknya selama ini sudah berupaya untuk menggenjot produksi, dengan mengembangkan komoditi bawang dataran rendah. Namun hingga saat ini produksinya belum maksimal, akibat tingginya biaya produksi, seiring harus didatangkannya bibit bawang merah dari wilayah brebes Jawa Tengah. Sementara untuk wilayah pertanian bawang eksisting di Samosir, Lusiantini mengaku kualitasnya memang cukup baik, namun produktifitas bawang asal samosir tak bisa maksimal akibat kondisi alam.

Berdasarkan data dinas perindustrian dan perdagangan Sumatera Utara, petani lokal di Sumut hanya mampu menyediakan sekitar 10 persen dari kebutuhan masyarakat yang mencapai 2 ribu ton pertahun. Sedangkan 90 persen diantaranya diimpor, utamanya dari Tiongkok. AS

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in