Home | Jurnal Medan | Pendidikan di Indonesia Harus Menghilangkan Budaya Kekerasan

Pendidikan di Indonesia Harus Menghilangkan Budaya Kekerasan

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Hari pendidikan nasional yang diperingati setiap 2 Mei masih diwarnai budaya kekerasan yang menimbulkan korban Jiwa di Indonesia. Akhir April lalu, seorang siswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran tewas setelah dianiaya para seniornya.

Tokoh pendidikan Sumatera Utara, dr Sofyan Tan mengatakan, pemerintah harus segera menghilangkan budaya kekerasan yang masih kerap terjadi dalam dunia pendidikan hingga saat ini. Ini karena sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Menurut Sofyan Tan, tujuan pendidikan adalah mendidik orang agar outputnya menjadi manusia Indonesia yang mampu menjawab persoalan yang dihadapi bangsa ini. Artinya dari segi SDM yang dihasilkan itu sanggup mengolah dan memanage kekayaaan alam sehingga hasil yang dicapai juga bisa lebih baik. Budaya kekerasan yang masih kerap terjadi di dunia pendidikan sudah seharusnya dihilangkan dengan memutus rantai kebencian atau balas dendam yang dimiliki para siswa.

Sofyan Tan juga mengatakan, selama pemerintah terus menerus membiarkan adanya kegiatan yang berbau kekerasan, maka selama itu pulalah akan selalu ada korban dalam proses pendidikan di Indonesia. Menurutnya, dalam dunia pendidikan kedisiplinan memang perlu ditekankan. Tetapi untuk mengajarkan kedisiplinan tersebut bisa dilakukan dengan cara yang lebih terdidik. RW

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in