Home | Jurnal Medan | Pemprov Sumut Optimis Sei Mangkei Dapat Menyerap 60 Persen CPO Sumut

Pemprov Sumut Optimis Sei Mangkei Dapat Menyerap 60 Persen CPO Sumut

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memproyeksikan operasional Kluster Khusus Industri Hilir Kelapa Sawit di Sei Mangkei Kabupaten Simalungun, akan mampu menyerap hingga 60 persen produksi minyak sawit mentah (CPO) Sumatera Utara. Namun sejumlah kalangan lain menilai, target tersebut akan sulit dicapai akibat belum adanya skema pembangunan dan pengelolaan bersama antara pemerintah dan pihak swasta yang akan berinvestasi di Sei Mangkei.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Sabrina kepada Smart FM, Selasa (13/5/2013) menuturkan, pihaknya kini tengah intensif melakukan promosi dan penawaran kepada investor, agar mereka bersedia menginvestasikan dananya di Sei Mangke. Dimana nantinya dalam kawasan ekonomi khusus (KEK) itu, produk CPO yang diproduksi sejumlah pabrik kelapa sawit yang tersebar di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya, akan dikelola menjadi barang bernilai ekonomis lebih tinggi. Baik itu barang siap pakai, maupun barang setengah jadi.

Sabrina mengaku, selain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, Pemprov Sumut berharap keberadaan KEK Sei Mangkei juga mampu menekan ketergantungan Sumut akan produk-produk olahan CPO, yang selama ini masih diimpor dari luar negeri. Karena ketergantungan itu, selain menggerus pendapatan devisa daerah, juga telah membuat harga jual CPo maupun tandan buah segar sawit milik petani, terkoreksi tanpa bisa dikendalikan.

Menurut Sabrina, saat ini sudah ada beberapa investor yang sudah menyatakan kesiapannya berinvestasi di sektor perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara. Utamanya di kawasan ekonomi khusus Sei Mangke, yang ditargetkan dapat beroperasi pada tahun depan. Diantaranya PT Ferrostaal Indonesia, PT Unilever, serta sejumlah perusahaan dari Eropa, Amerika dan Asia lainnya, termasuk China dan Jepang. Di KEK Sei Mangkei sendiri saat ini tengah dikerjakan penambahan pabrik kelapa sawit (PKS) milik PTPN 3. dengan kapasitas total 75 ton perjam. Tengah dikerjakan pula pembangunan beberapa infrastruktur pendukung industri lainnya, seperti pembangkit listrik berkapasitas 2x30 megawatt, serta pabrik minyak inti sawit berkapasitas 400 liter perhari. Masih ada pula pabrik biodiesel , betacarotin, fatty acids, fatty alcohol dan oleokimia lainnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Medan, Muhammad Ishak mengatakan, pengembangan industri hilir di sumatera utara masih sulit terlaksana. Pasalnya hingga saat ini belum adanya kejelasan terkait skema pengembangan industri hilir yang disepakati pemerintah dan pengusaha di sumatera utara. Meski telah menyatakan kesediaannya untuk berinvestasi, namun ia meyakini ada kekhawatiran yang cukup besar dari para investor, terkait keamanan dan kepastian investasinya. Sejumlah stimulus perekonomian yang dimunculkan pemerintah dalam kurun waktu setahun terakhir, seperti kenaikan TDL, BBM dan LPG di tengah kelangkaan yang terjadi. Serta naiknya upah buruh dan infrastruktur pendukung industri yang belum kunjung diselesaikan pemerintah. Belum lagi terkait perijinan, perpajakan serta masih banyaknya praktik kutipan liar, dan retribusi-retribusi lain, yang nyatanya membuat sistem produksi berbiaya tinggi. - Riri Wahyuni (AS)

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

0

Log in