Home | Jurnal Medan | Pempropsu Didesak Percepat Pembangunan Jalan Alternatif

Pempropsu Didesak Percepat Pembangunan Jalan Alternatif

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Pemerintah didesak mempercepat pembangunan jalan alternatif menuju sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Desakan ini disampaikan dalam rangka memudahkan pelaku usaha dalam mendistribusikan barang. Seiring dengan ancaman banjir dan longsor yang mengancam.

Corporate Affair Manager PT Cocacola Amatil Nothern Sumatera Utara Ahmad Nasoha mengatakan putusnya jalur transportasi yang sempat terjadi beberapa hari lalu di ruas jalan Medan-Karo, menyebabkan terhambatnya distribusi produk. Kondisi ini pun diakui sering terjadi pada sejumlah wilayah yang memiliki kondisi alam dengan potensi bencana yang cukup tinggi. Meski perusahaan telah menyiapkan sistem distribusi untuk mengantisipasi kondisi ini, diakui pelaku usaha akan sangat terbantu jika pemerintah segera mewujudkan rencana pembangunan jalur alternatif di Sumut. Karena bagaimana pun juga penggunaan jalur memutar hanya akan meningkatkan biaya distribusi dan merugikan dunia usaha. Desakan serupa disampaikan PT Petamina.

Asisten Manajer Hubungan Eksternal PT Pertamina Wilayah I Sumatera Bagian Utara, Sonny Mirath mengatakan putusnya jalur transportasi dan ketiadaan jalur alternatif yang berjarak sama akan mengganggu aktivitas distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan berdampak pada perekonomian secara menyeluruh. Contohnya, longsor di Desa Doulu Kabupaten Karo pekan lalu telah memicu 10 truk tangki Pertamina terjebak kemacetan selama 5 jam. Beruntung di malam sebelum longsor, PT Pertamina telah melakukan distribusi harian sehingga tidak sempat memicu kekosongan stok di sejumlah SPBU di wilayah Karo. Namun andai saja proses pembersihan longsoran berlangsung lama, kekosongan pasokan berpotensi terjadi.

Sementara itu, Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klematologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Mdan Hendra Suwarta mengaku, dalam beberapa bulan ke depan sejumlah daerah di Sumut masih harus waspada. Tingginya curah hujan maupun perubahan cuaca yang ekstrim memungkin terjadinya banjir dan tanah longsor.

Beberapa wilayah dengan kategori rawan di antaranya Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal dan Kota Sibolga. Termasuk beberapa daerah lainnya di kawasan timur Sumtaera Utara. Kondisi ini diprediksi berpotensi terjadi hingga lima bulan ke depan. Dengan intensitas hujan rata-rata mencapai 434 milimeter per bulan. Sedangkan untuk beberapa daerah lainnya, diperkirakan masih akan berada dalam kondisi normal. Perbedaan mencolok ini dipicu oelh struktur geofrafis yang berbeda. Upaya antisipasi atas beragam bentuk bencana pun perlu dilakukan masyarakat maupun pemerintah. Apalagi bencana alam dipastikan dapat mengganggu sistem yang berlaku selama ini. wahyudi aulia siregar

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

5.00

Log in