Home | Jurnal Medan | Kinerja Ekspor Perdagangan Internasional Sumatera Utara Mengalami Penurunan

Kinerja Ekspor Perdagangan Internasional Sumatera Utara Mengalami Penurunan

By
Font size: Decrease font Enlarge font

Badan Pusat Statistik Sumatera Utara Mencatat Penurunan Kinerja Ekspor Perdagangan Internasional Sumatera Utara Sebesar 7 Persen. Kondisi Ini Diklaim Seiring Dengan Mengecilnya Volume Perdagangan di Pasar Internasional Sebagai Dampai Dari Krisis Keuangan di Amerika Serikat dan Sejumlah Negara Eropa Yang Belum Kunjung Usai . Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS OK Hajizi mengatakan, hal ini ditunjukkan dari penurunan realisasi ekspor produk unggulan seperti CPO dan karet. Tercatat pada februari 2012, realisasi ekspor CPO turun 31 persen dibandingkan bulan sebelumnya dari 399 juta dollar menjadi 274 juta dollar. Capaian ini memang meningkat dibandingkan tahun lalu namun dengan besaran yang relatif kecil, di kisaran 5 persen. Sementara untuk komoditas karet yang memiliki andil 24 persen pada total nilai ekspor sumut, realisasinya juga turun sekitar 5 persen terhadap januari 2012 dan 32 persen terhadap februari tahun sebelumnya. Meski diakui pula ada peningkatan realisasi di beberapa komoditas seperti alumunium dan kayu, namun belum mampu menahan laju pelemahan realisasi total ekspor Sumut.

Penurunan realisasi ekspor ini sejatinya sudah diprediksi oleh pemerintah secara nasional. Hajizi mengaku, pemerintah telah berupaya menciptakan pangsa pasar baru di luar eropa dan amerika. Upaya tersebut pun relatif berhasil, dibuktikan lewat perubahan pangsa pasar utama ekspor produk Sumut yang kini beralih ke pasar asia. Tercatat pada februari 2012, Jepang, India dan China menjadi pangsa pasar ekspor utama Sumut, dengan total transaksi mencapai 570 juta dollar. Capaian itu meningkat sekitar 50 juta dollar jika dibandingkan tahun lalu. Sementara Amerika dan beberapa negara eropa, diakui masih menjadi pasar potensial namun realisasinya cenderung menurun di setiap periode.

Hajizi menambahkan, pemerintah juga melakukan revitalisasi produksi di tingkat lokal. Namun diakui revitalisasi itu menyebabkan terjadinya peningkatan impor khususnya untuk barang modal dan bahan baku penolong. Pada februari 2012 lalu , BPS Sumut mencatat terjadinya kenaikan impor sebesar hampir 16 persen secara bulanan , dari 326 juta dolar menjadi 378 juta dolar . Sedangkan secara tahunan juga meningkat sekitar 7 persen.

Mengecilnya volume perdagangan di pasar internasional sebagai dampak krisis keuangan di Amerika Serikat dan sejumlah negara di eropa juga dibenarkan Kepala Seksi Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Dinas Perindustrian Sumatera Utara Fitra Kurnia. Menurutnya kondisi itu menunjukkan dampak yang sangat terasa bagi pelaku ekspor dalam negeri karena diakui hingga saat ini sejumlah eksportir belum mendapatkan repetisi order atau pemesanan ulang. Sejumlah negara di Eropa dan Amerika yang menjadi importir produk asal Sumut, saat ini diakui cenderung merevitalisasi sumber daya lokal sebagai produk substitusi ekspornya.

Subscribe to comments feed Comments (0 posted)

total: | displaying:

You have to be logged in to post comments

  • Bold
  • Italic
  • Underline
  • Quote

Please enter the code you see in the image:

Captcha

Tagged as:

No tags for this article

Rate this article

5.00

Log in